kerjaholic
situsdepnaker
brangkas-kerja
forums cancer
vitroculture

Kamis, 12 Maret 2009

Ganti dengan itik

MENILIK umurnya, orang seusia H Moh Jatin Suwarno (80) banyak yang sudah renta dan pikun. Namun tidak bagi lelaki yang akrab disapa Mbah Warno dan kini tinggal di RT 3 RW 4 Desa Bayem Kecamatan Kutoarjo, Purworejo itu.

Justru pada usia senjanya, wartawan tiga zaman ini memulai beternak dan berkebun. Ia yang terbiasa hidup di kota metropolis Surabaya, sejak 2002 lalu tak canggung pulang kampung menjadi wong ndesa.

Lihatlah pada siang itu. Sekitar pukul 11.00, ia masih bersemangat membersihkan kandang itik di sudut lahan kebunnya seluas kira-kira satu hektare. Ia memakai celana pendek, sepatu bot, baju kerja warna putih. Seolah tak kalah energik dengan tiga anak buahnya yang masih muda.

Keringat bercucuran tak ia hiraukan. Barulah setelah penulis datang, ia mau istirat dan mandi, lalu menemani ngobrol di teras sambil berkeliling kebun.

Mbah Warno mengaku, begitu bangun tidur dan shalat subuh, ia langsung terjun ke kebun yang sekaligus tempatnya beternak. Apa saja ia kerjakan. Mulai membersihkan kandang, mengambil telur, dan memanen buah. Itulah aktivitasnya sehari-hari.

''Dengan kerja dan berkeringat, tahu-tahu sudah siang. Setelah mandi, makan pun enak,'' ucap bapak yang berhasil mengentaskan empat anaknya dan beberapa keponakannya yang antara lain dari hasil profesinya sebagai koresponden.

Kini ia mulai beternak 100 ekor itik. Tiap pagi minimal 60 butir telur bebek bisa dijual istrinya. Dia menargetkan punya 300 ekor itik, dan bibitnya ia datangkan dari Kutowinangun, Kebumen.

Ternak itik itu bukan satu-satunya usahanya. Berhubung lahannya luas dan pada musim hujan sering ada genangan air, ia terilhami untuk memanfaatkan air comberan itu sebagai lahan memelihara itik.

Ditemani istrinya, Ny Maria Misdiati (64), ia sudah merintis ternak ayam potong dan ayam buras sejak 2002. Itu setelah ia pensiun menjadi koresponden Suara Merdeka di Surabaya. Ia lalu pulang ke kampung masa kecilnya di Bayem, Kutoarjo.

Saat ini, usaha ayam potongnya yang modal awalnya Rp 150 juta itu telah berkembang pesat dengan tiga tenaga kerja dan dua mandor. Sekali panen menghasilkan 6.000 ekor ayam potong. Lalu ia juga mengembangkan ayam bukan ras (buras). Malah Lebaran lalu, banyak tetangga pesan ayam kampung kepadanya.

Sebelumnya, ia pernah mencoba beternak sapi. Dari dua ekor sapi sempat berkembang menjadi delapan ekor. Hanya karena usianya yang sepuh, ia mengaku tak sanggup ngarit (mencari rumput) tiap hari. Apalagi pada musim kemarau rumput kian langka sehingga sementara sapi-sapi itu ia jual.

Namun kotoran sapi itu ia manfaatkan untuk memelihara ikan lele dumbo. Sampai saat ini lele dumbo itu masih terpelihara di belakang rumahnya.

Kebun Buah

''Prinsip hidup saya itu pasrah saja. Ojo gumunan karo tangga. Maka saya tak takut pensiun,'' ucap lelaki yang pada masa mudanya juga pernah menjadi Heiho, tentara pada masa pendudukan Jepang itu.

Meski kembali menjadi orang udik, setelah berpuluh tahun menjalani profesi sebagai wartawan, Mbah Warno tak gamang. Bahkan kini mengaku puas. Sebab, setidaknya bisa memberi contoh bahwa usia tua tak harus renta dan sakit-sakitan.

''Saya pernah kena gula, tapi sembuh. Kini sakit saya ya kalau nggak punya duit,'' imbuh lelaki yang pernah menjadi koresponden Djawa Shimbun dan pada 1948 pernah ditangkap NICA itu.

Apalagi dari kebunnya yang luas, kini ia juga menanam buah-buahan. Ada rambutan, mangga, dan pohon nangka. Malah halaman depan rumahnya juga ia tanami durian bangkok.

Pohon durian di halaman rumah itu telah mulai berbuah. Di dekatnya ada pohon pepaya dan saat ini juga mulai ia tanami bunga anggrek. Pendeknya, lelaki ulet ini seolah tak mau berhenti untuk mencoba hal baru yang positif.

Dari berbagai jenis rambutan, Mbah Warno dan istrinya beberapa kali panen dan menjualnya ke Kutoarjo. Pernah sekali panen rambutan dari Bayem itu laku jutaan rupiah.

Mangga yang ia tanam hanya jenis terbaik, yakni mangga sengir dan mangga madu. Belakangan ini beberapa teman wartawan yang lebih muda kerap datang ngangsu kawruh kepada dia. ''Kemarin Mas Nardi (Masdi Sunardi, karikaturis senior Suara Merdeka, datang, ya tak gawani ndhog bebek.''

Padahal, kebunnya itu dulu berupa tanah yang penuh semak belukar alias ara-ara. Maklum, selama beberapa puluh tahun ia tinggal merantau ke Jakarta, kemudian menetap lama di Surabaya.

Baru beberapa tahun setelah ia pensiun, mulai memikirkan untuk memanfaatkan pekarangan warisan orang tuanya. Dari semula menanam satu dua pohon buah-buahan, kini kebunnya telah penuh tanaman.

Bikin Batako

Malah untuk menutup pagar keliling pekarangannya, Mbah Warno tak mau beli batako. Ia beli mesin seharga Rp 10 juta, dengan dibantu karyawan ia mencetak sendiri batako itu. Kini pagar keliling setinggi kurang lebih tiga meter itu sudah berbatako dan jika dihitung nilainya mencapai Rp 40 juta.

Melihat riwayat hidupnya, Mbah Warno mengaku tidak bisa melupakan jasa almarhum H Hetami, pendiri koran terbesar di Jateng, Suara Merdeka. Sebab pada tahun 1974, ia ditawari langsung oleh H Hetami untuk menjadi koresponden di Surabaya.

Dulu di kalangan wartawan dan pejabat Jatim, Mbah Warno sangat dikenal. Dia juga dijuluki Suara Merdeka dari Em Ma, maksudnya dari Embong Malang, salah satu rumahnya yang pernah menjadi perwakilan koran tersebut di Surabaya.

Berhubung usia terus bertambah, tak mungkin ia terus menjadi koresponden. Namun tidak ada kata pensiun bagi siapa pun yang mau bekerja dan berkeringat, meski usia sudah tua.

Ia mengenang, dulu awalnya dia hobi fotografi. Bahkan sempat bergabung dengan Indonesian Press Photo Service (IPPOS). Ia mengisahkan tentang rumitnya kala itu (tahun 50-an) mencetak foto manual dengan bantuan batok kelapa.

Karya fotonya sering ia jual ke surat kabar asing di Jakarta dan honornya bisa 10 kali lipat dari koran Indonesia. Kini, wartawan kebanyakan telah memakai foto digital yang praktis, tak usah repot mencetak ke studio.

Kepada wartawan muda, Mbah Warno meminta untuk tetap menjaga idealisme di tengah persaingan media massa modern. Ia menyarankan para jurnalis untuk tetap berkarya. Namun jangan lupa memikirkan masa depan, termasuk, jangan malu memulai langkah baru pada hari tua.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar